Tragedi selalu bermula dari rumah, dari ruang yang seharusnya paling aman, paling sunyi, dan paling penuh kasih. Judul peristiwa ini terdengar seperti headline kriminal, tetapi sesungguhnya ia adalah gugatan moral: anak kandung membakar ibunya sendiri. Yeni Rudi Astuti seorang ibu dari Monjok Baru, Mataram, tidak mati oleh takdir, melainkan oleh keputusan. Ia dibungkam di rumahnya sendiri, dibekap oleh darah yang lahir dari rahimnya, lalu diangkut ke Sekotong,seolah kebenaran bisa dipindahkan, seolah dosa bisa disamarkan oleh jarak. Api menyala di Dusun Batu Leong, bau menyengat mengudara, dan seorang warga yang mengira itu sekadar sampah terbakar justru menemukan fakta paling menyakitkan: tubuh seorang ibu sedang dilenyapkan dari dunia.
Api itu bukan sekadar nyala, melainkan simbol. Ia adalah upaya menghapus jejak, membakar sejarah, dan memutus relasi paling purba antara ibu dan anak. Polisi menyebut namanya Bara Prima Rio, sebuah nama yang ironis,bara yang benar-benar membara, tetapi membakar ke arah yang salah. Setelah memastikan ibunya tak bernyawa, ia memilih api sebagai alibi. Ini bukan tindakan spontan; ini adalah kalkulasi dingin yang menunjukkan kesadaran, niat, dan keberanian untuk melanggar batas paling sakral dalam kemanusiaan. Di sinilah kejahatan bukan lagi sekadar kriminalitas, melainkan pengkhianatan terhadap asal-usul.
Motifnya, adalah sakit hati dan utang piutang, dua hal yang sering dianggap sepele, tetapi mampu menjadi dinamit jika bercampur dengan luka batin dan sejarah gelap. Rio adalah residivis narkoba, tetapi narkoba hanyalah gejala, bukan sebab. Yang lebih berbahaya adalah rasa kalah di hadapan hidup, rasa gagal yang tak menemukan bahasa selain kekerasan. Ironisnya, warga mengenalnya sebagai pribadi pendiam dan sopan. Namun justru di situlah pelajaran pahitnya: kesopanan tidak selalu berarti kedamaian, dan diam tidak selalu menandakan keutuhan jiwa. Amarah sering tumbuh paling subur di ruang sunyi yang tak pernah didengar.
Malam ini pelaku telah diamankan, tetapi tragedi ini tidak selesai di balik jeruji. Ia tinggal sebagai pertanyaan panjang bagi kita semua: bagaimana darah daging bisa berubah menjadi ancaman paling mematikan? Selamat jalan, Ibu Yeni. Hari itu adalah titikmu, gerbangmu, dan awal dari perjalanan lain yang tak lagi menyakitkan. Semoga cahaya menuntun langkahmu, semoga semesta memelukmu lebih lembut daripada dunia yang gagal menjagamu. Dan kepada kita yang ditinggalkan, semoga tragedi ini menjadi cermin,bahwa tanpa empati, tanpa keadilan batin, rumah pun bisa berubah menjadi neraka paling kejam.” ( Debu )








Discussion about this post