Mataram halolombok – Anggota Komisi III Provinsi DPRD NTB, Muhammad Aminurlah, menegaskan bahwa pentingnya sinergi antara pemerintah provinsi, kabupaten kota, hingga pemerintah desa dalam pelaksanaan program intervensi pengentasan kemiskinan ekstrem.
“Tanpa kolaborasi yang terintegrasi, upaya tersebut sulit akan mencapai hasil maksimal,” ungkap politisi PAN NTB, kemarin.
Dia mengatakan, pemerintah provinsi (Pemprov) NTB menyiapkan skema intervensi, termasuk kemungkinan melalui program desa tematik bagi 150 desa tahap awal.
Pelaksanaannya tetap harus berbasis proposal dari desa masing-masing.
” Tapi nanti tentunya akan dilihat tanggung jawabnya seperti apa, intervensi seperti apa,” ucapnya.
Dia mengungkapkan, kemiskinan ekstrem perlu penanganan serius dan berkelanjutan. Bantuan yang diberikan dalam tahap awal berbentuk uang tunai sebesar Rp300 juta per desa.
Namun demikian, efektivitasnya masih perlu pendalaman dan pengawasan.
” Nanti akan dilakukan pendalaman oleh pendamping desa seperti apa,” imbuhnya.
Dia menegaskan, DPRD akan menjalankan fungsi pengawasan terhadap penggunaan anggaran tersebut.
Dalam kesempatan itu. Dia mempertanyakan apakah intervensi satu kali dengan nominal Rp300 juta cukup untuk benar-benar mengentaskan kemiskinan yang ada di setiap Desa.
” Apakah mampu? Hanya sekali. Apakah satu kali ini menyentuh betul atau tidak?. Karena ini kan selamanya,” ujarnya.
Sebab itu, perlu dibuka kemungkinan intervensi lanjutan berbentuk bantuan barang, namun tetap menekankan perlunya pemerataan karena desa lain juga membutuhkan dukungan serupa.
Menurutnya, sinergisitas menjadi kunci utama agar program provinsi dapat berkelanjutan dan diperkuat oleh pemerintah kabupaten/kota.
” Tidak bisa provinsi saja yang bisa mengeluarkan orang dari kemiskinan. Yang punya wilayah itu kabupaten, kota,” tegasnya.
Namun demikian, dia tetap optimis program pengentasan kemiskinan dapat berjalan efektif apabila dilaksanakan secara terintegrasi dan diawasi dengan baik.
” Itu semua harus berjalan terintegrasi. Tanpa itu tidak bisa,” lugasnya.*








Discussion about this post